Tempat Wisata Jangan Ganggu Wilayah Konservasi

BELUM JELAS IJINNYA: Kawasan Astro Highland di kebun teh Ciater diduga belum ada ijinnya. (INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES)

SUBANG-Masyarakat Subang Selatan memper­tanyakan perizinan terkait pembangunan tempat wisata di kebun teh dan Desa Ciater.

Salah satu masyarakat Subang Selatan, Dewan Anggara (37) menyebut, dengan akan berdirinya dua tempat wisata di sana yaitu Astro Highlands yang sudah berdiri di perbatasan Band­ung Barat dan Subang, dan De’Ranch yang kabarnya sedang dibangun di ka­wasan Desa Ciater.

“Di sekitar Astro itu ada sumber mata air, yang di­manfaatkan masyarakat. Antara lain, oleh warga desa Cipanas, Palasari dan sekitarnya, pemerintah dan pengusaha mampu menja­min gak keberlangsungan sumber mata air itu tidak terganggu?” ungkapnya.

Dia juga mempertanyakan sejumlah perizinan yang dikantongi oleh ke dua ka­wasan wisata yang sudah berdiri dan akan dibangun itu. “Izinnya gak tahu ada atau tidak,” tambahnya.

Pasundan Ekspres sem­pat mengkonfirmasi un­tuk mempertanyakan hal tersebut, namun tidak ber­hasil menemui pengusaha di dua kawasan itu. Pada kesempatan yang lain, pe­merhati lingkungan Subang Iis Rochaeti memberikan tanggapannya terkait pem­bangunan dua kawasan tersebut

Selain membenarkan jika di dekat kawasan Astro ada hajat hidup orang banyak, yakni sumber mata air, dia juga menyebutkan jika ka­wasan itu merupakan zona penyangga konservasi.

“Kalau saya hanya me­nekankan saja bahwa ada aturan yang perlu ditem­puh, misal Amdal lingkun­gan, lalu lintas, dan seba­gainya, ditempuh tidak? Kan begitu pertanyaannya. Belum lagi di sana juga merupakan kawasan lind­ung, kawasan resapaan air ya. Saya yakin, jika izinnya ditempuh dengan benar maka hal-hal semacam itu akan dipertimbang­kan oleh pemerintah kita, pemerintah kita sudah pintar-pintar,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan, jika alih fungsi lahan di Subang Selatan berlangsung maka dampaknya bukan cuma ke area Subang Sela­tan melainkan sampai ke Subang Utara, karena resa­pan airnya terganggu.

“Intinya saya cuma meng­ingatkan para pemangku punya kebijakan untuk melakukan kaji ulang aturan terkait tata ruang, perizinan, dampak yang akan terjadi ke depan. Sekali lagi saya sam­paikan kawasan tersebut sebagai zona penyangga ka­wasan konservasi, kawasan lindung, juga resapan air,” tambahnya.

Terkait akan dibangunnya tempat wisata De’Ranch di sekitar Desa Ciater Iis juga kembali ingatkan pemerin­tah jika ada Perda nomor 1 tahun 2016 tentang kawasan lindung di Desa Ciater yang harus diperjelas.

“Mana saja yang disebut kawasan lindung di Desa Ciater, biar tidak memb­ingungkan. Kalau nanti ternyata kawasan wisata itu dibangun di atas kawasan lindung, ya jelas melang­gar. Jadi perjelas dulu yang dimaksud Perda nomor 1 tahun 2016 kawasan lind­ung di Desa Ciater itu yang mana apa semua Desa Ci­ater? Atau mana?” tambah­nya lagi.

Mewakili Pemda Subang, Asda 1 Asep Nuroni menang­gapi hal tersebut. Asep sepakat pembangunan harus sesuai aturan. Asep menyampaikan dibangun dimanapun ka­wasan wisata di Subang, tetap harus sesuai RUTR (Rancan­gan Umum Tata Ruang).

“Kuncinya semua sudah diatur oleh RUTR. Dimana kawasan industri, kawasan wisata begitu ya. Nah, se­lama itu tidak dilanggar ya sah-sah saja, tentunya den­gan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Dia tidak mau menanggapi lebih lanjut terkait pem­bangunan 2 tempat wisata di wilayah Subang Selatan, dengan alasan harus ada pengkajian lebih khusus. “Patokannya itu saja, RUTR,” pungkasnya.(idr/vry)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top