Emil: Pergantian Nama Provinsi Jabar Tidak Mudah

PUSAT PEMERINTAHAN: Gedung Sate menjadi ikon dari Kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat yang dibangun sebelum Indonesia Merdeka. (ILUSTRASI)

BANDUNG – Wacana sejumlah tokoh Sunda, yang ingin mengembalikan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda mendapat tanggapan dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Menurut pria yang akrab disapa Emil itu, wacana tersebut boleh saja dilontarkan namun untuk mengganti nama provinsi yang telah ditetapkan sejak tahun 1926 itu bukanlah hal yang mudah.

Sebabnya, Jawa Barat merupakan melting pot atau tempat bercampurnya tiga budaya. Pertama Sunda Priangan, Kecirebonan yang bahasanya dominan menggunakan bahasa Jawa serta Betawi dengan bahasa dan budayanya yang juga khas.

“Saya harus melihat dulu secara fundamental, karena jabar itu kalau secara judul memang bukan lagi Jawa bagian barat, Jawa paling barat kan Banten. Sudut paling barat ya bukan Jabar, tetapi Banten. Tapi Jabar itu budaya ada tiga, ada Sunda Priangan, Kecirebonan yang bahasanya Jawa dan ada Betawi,” ujar Ridwan Kamil usai melantik pengurus Baznas Provinsi Jawa Barat di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Rabu (14/10).

Emil menjelaskan, andaikata provinsi Jawa Barat berganti nama menjadi Tatar Sunda. Tentunya, kebijakan itu harus dipahami dan disepakati oleh warga Jabar di Cirebonan, maupun warga Jabar di daerah Betawi.

“Kalau tidak ada kesepakatan, maka hidup ini tidak akan mashlahat, jadi saya istilahnya melihat sebuah wacana, silakan, tapi masih panjang perjalanannya karena harus dipahami dan disetujui oleh pihak yang merasa berbeda, kalau itu dihadirkan,” ujar Emil.

Ia pun menjelaskan, memang sedianya Sunda itu bukan hanya etnis atau suku yang tinggal di Jawa bagian barat semata. Tetapi, Sunda merupakan wilayah geografis yang meliputi Sumatera, Kalimantan dan Jawa atau istilah lainnya Sunda Besar.

“Kemudian ada Sunda Kecil yaitu Bali, Nusa Tenggara dan lain-lain, tapi dalam perjalanan sejarahnya menjadi etnisitas, nah kesepakatan ini belum semua orang paham jadi masih panjanglah,” tuturnya.

Sunda Besar dan Sunda Kecil yang dimaksud Emil, ialah Lempeng Sunda yang merupakan bagian dari Lempeng Tektonik Eurasia, yang kini secara administratif meliputi Kalimantan, Jawa, Sumatera, bahkan sebagian Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, Kamboja, dan Vietnam.

Terpisah, Ketua Cinta Budaya Nusantara (CBN), Melok Bestari meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat untuk membuat dan menerapkan kebijakan Rabu Nyunda.

Menurut Melok, Rabu Nyunda harus diatur dalam kurikulum pendidikan sehingga dapat berjalan diseluruh sekolah di Jabar. “Nah, pak Emil inikan sudah memegang Jawa Barat, harusnya pak Emil tidak hanya Bandung sekarang harsunya se-Jawa Barat ada Rabu nyunda,” kata Melok di Bandung, Rabu (14/10).

Dia menyebut, pihaknya akan mendatangi setiap sekolah untuk mengajak serta menyosialisasikan Rabu berkebaya. “Kita mengadakan dari mulut ke mulut ngajakin untuk Rabu Nyunda dengan menggunakan kebaya,” ucapnya.

Melok menjelaskan, generasi muda harus diberi wawasan tentang Kebaya. Pasalnya, hampir sebagian pelajar di sekolah tidak tahu jenis dan makna dari kebaya itu sendiri.

Oleh karena itu, CBN dan Pemprov Jabar harus memperkenalkan dan mengedukasi tentang kebaya kepada generasi muda.

“Karena mereka itulah yang terserang oleh budaya dari luar. Memang itu tidak bisa di hindari tapi tidak boleh melupakan budaya kita sendiri,” katanya.

Di tempat yang sama, Himpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Jawa Barat mengajak seluruh masyarakat untuk mempertahankan dan melestarikan budaya Nusantara agar tidak tergerus tren dan budaya luar.

Ketua INTI Jabar, Dedi Wijaya mengatakan budaya adalah wariskan leluhur suatu negara kalau tidak ada budaya itu negara akan hancur. Jadi, lanjut dia, keturunan atau generasi berikutnya wajib mempertankan budaya.

“Budaya warisan ribuan tahun itu wajib kita mempertahankan. Tidak mungkin negara lain mempertahankan selain kita-kita ini sebagai generasi penerus ini,” katanya.

Inti sendiri, ucap dia, adalah satu wadah untuk komponen yang terdiri dari berbagai suku seperti Batak, Padang, Jawa, Sunda, Makasar, Bali yang bertujuan untuk melestarikan budaya Nusantara.

“Kita mengisi negara dengan aneka ragam, bineka tunggal Ika, tujuannya tetap satu mempertahankan NKRI,” pungkasnya. (mg1/drx)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top