Bansos Tahap Dua Sasar 1,3 Juta KRTS

SALURKAN BANTUAN: Gubernur Jabar, Ridwan Kamil saat memberikan santunan bagi warga terdampak korona sambil meninjau empat daerah dalam menjalankan protokol kesehatan. (FOTO: HUMAS PEMPROV JABAR)

BANDUNG – Penyaluran bantuan sosial (bansos) tahap II akan mulai pada 8 hingga 21 Juli. Hal itu disampaikan Asisten Administrasi Setda Provinsi Jawa Barat Dudi Sudrajat Abdurachim.

Dudi menyebutkan, penyaluran bansos tahap II ini menyasar 1.392.407 Keluarga Rumah Tangga Sasaran (KRTS) non Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). “Tahap II ini data terakhir non DTKS berjumlah 1.392.407 KRTS,” kata Dudi baru-baru ini.

Sementara, untuk total besaran bantuan tetap sama yaitu sebesar Rp 500 ribu, dalam bentuk sembako Rp 350 ribu, dan uang tunai Rp 150 ribu. “Untuk nilai sama dengan bansos tahap I. Kita juga melakukan kerja sama dengan PT Bulog untuk menyuplai sembako, dan PT Pos untuk pengiriman barangnya,” katanya.

Terkait alur pendistribusiannya, kata dia, barang dari Bulog yang ada di setiap kabupaten akan dikirim ke PT Pos di tingkat kecamatan. Dari sana, PT Pos akan langsung menyalurkan bantuan ke masyarakat.

Namun ada yang berbeda untuk bantuan sembako pada tahap II ini. Yang semula paket sembako ada telur, nantinya telur diganti oleh susu UHT.

Digantinya telur dengan susu kata dia adalah karena pada penyaluran bansos tahap I banyak terjadi masalah, seperti telur yang pecah dan busuk.

“Karena expired (kadaluwarsa) banyak telur yang busuk, jadi disarankan oleh ahli gizi untuk diganti sama susu, karena proteinnya sama,” kata dia.

Selain itu, Pemprov Jabar juga menambahkan 5 pcs masker dalam paket bantuan sembako. Data penerima bansos sendiri bisa dilihat masyarakat melalui laman Pikobar dan aplikasi Solidaritas

Terpisah, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil bersama Forkopimda Jabar membagikan ribuan paket sembako di empat daerah, yakni Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, dan Kota Banjar, Minggu (5/7/20).

“Kami melakukan bakti sosial sekaligus monitoring penanganan COVID-19 di empat daerah,” kata Kang Emil.

Kang Emil mengatakan, pandemi COVID-19 menghadirkan dua persoalan, yakni darurat kesehatan dan darurat ekonomi. Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar mengalokasikan anggaran triliuan rupiah untuk menyelesaikan dua persoalan tersebut.

“COVID-19 bukan hanya darurat kesehatan, tapi juga darurat ekonomi. Sekarang, 2/3 warga Jabar membutuhkan bantuan,” katanya.

Padahal, kata Kang Emil, sebelum ada pandemi COVID-19, penerima bantuan sosial di Jabar hanya 25 persen dari total penduduk. Sekarang menjadi 63 persen. “Maka kami distribusikan bantuan sosial, termasuk hari ini kami bagikan langsung,” ucapnya.

Bansos provinsi Jabar senilai Rp 500 ribu adalah satu dari delapan pintu bantuan. Tujuh pintu bantuan lainnya adalah Kartu Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Sembako, Kartu Pra Kerja, Dana Desa (bagi kabupaten), bantuan sosial (bansos) dari presiden, serta bansos dari kabupaten/kota.

Menurut Kang Emil, pendistribusian bansos provinsi tahap II akan segera dilakukan. Data yang sempat menghambat distribusi terus diperbaiki dan diperbarui, supaya tepat sasaran dan berkeadilan. Maka itu, ia meminta semua masyarakat turut mengawasi pendistribusian bansos.

“Bansos terus kita laksanakan, mohon monitoring dan evaluasi dari semua pihak termasuk media. Penerima bansos akan terus di-update,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Kang Emil mengapresiasi Gugus Tugas Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Banjar dalam memutus mata rantai sebaran COVID-19. Level kewaspadaan dua daerah itu berada di zona biru (level 2). Sementara Kabupaten Ciamis dan Pangandaran berada di zona kuning (level 3).

“Jabar banyak diapresiasi dalam penanggulangan COVID-19 karena keterkendaliannya. Mudah-mudahan semua daerah secepatnya menjadi zona hijau,” ujarnya.

Kang Emil bersama Forkopimda mengendarai sepada motor dalam kegiatan tersebut. Selain memudahkan akses menuju desa-desa, dia bersama Forkopimda menyerap aspirasi masyarakat sepanjang perjalanan.

“Sengaja naik motor supaya lebih santai dan rombongan tidak terlalu besar, juga bisa berhenti kalau ada permasalahan di jalan atau di desa-desa,” tandasnya. (bbs/drx)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top