Hadapi PSBB, Pedagang Pasar dan Tukang Ojek Ujung Berung Kebingungan

BANDUNG – Pemahaman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Bandung Raya ternyata belum dimengerti oleh para pedagang Pasar di Ujung Berung.

Bahkan, tidak sedikit para pedagang merasa kebingungan dengan teknis pelaksanaan PSBB, khususnya dalam kegiatan transaksi di pasar Ujungberung.

Padahal dalam aturan yang dikeluarkan Wali Kota Bandung sudah dijelaskan bahwa, terdapat tiga pembagian jadwal operasional pasar yang berbeda bagi pedagang.

Pasar, dibuka sejak pukul 04.00-12.00 WIB. Sedangkan untuk toko modern, warung, dan rumah makan dibuka mulai pukul 10.00-20.00 WIB.

Kendati demikian, beberapa pedagang masih merasa bingung dengan aturan tersebut. Salah satunya Evi yang mengatakan tetap akan mematuhi aturan namun juga melihat kondisi hari pertama PSBB dimulai.

“Bingung banget, tadi sempet ada rapat bersama pengurus pasar soal PSBB. Tapi saya gatau pasti besok teknisnya seperti apa, saya akan tetap jualan seperti biasa. Terus liat kondisinya juga gimana besok,” ujar Evi kepada Jabar Ekspres, Selasa (21/4).

Berikutnya Evi mengatakan akan tetap membuka tokonya sesuai dengan jadwal operasional.

“Tapi besok saya tetap ikuti aturan dulu, takut lah kalau nantinya toko saya diubrak-abrik kalau tidak patuh,” imbuhnya.

Hal serupa juga dikatakan oleh pedagang lain, yakni Jeri yang mengaku hanya mendapat informasi dari grup whatsapp terkait PSBB. Jeri juga beranggapan setiap pedagang memahami informasi tersebut secara berbeda-beda.

“Kalau ditanya soal teknis PSBB besok, setiap pedagang pasti beda-beda pemahamannya. Tapi saya udah tau kalau besok PSBB resmi diadakan, liat di media juga,” ujar Jeri.

Kendati masih merasa bingung, para pedagang di Pasar Ujungberung akan tetap berdagang sesuai jam operasional pasar yang telah diberlakukan.

Kegelisahan lainnya terkait PSBB tak hanya muncul dari pedagang saja. Salah satu tukang ojek yang biasa menunggu penumpang di kawasan pasar tersebut juga turut kebingungan.

“Udah ada sih informasi (PSBB) dari media televisi, cuma belum ada sosialisasi. Tapi gimana ya nasib saya dan rekan-rekan ojek yang lain, kalau seumpamanya dilarang narik penumpang,” ujar Yaya Supriatna kepada Jabar Ekspres, Selasa (21/4).

Yaya yang sudah menjadi tukang ojek selama enam tahun ini merasa kebingungan, terlebih ketika menjadi tukang ojek menjadi mata pencaharian utamanya.

“Saya juga bukan engga nurut sama himbauan pemerintah atau tidak takut sama corona. Tapi gimana, dari pada keluarga di rumah ga makan, ya saya ambil resiko saja,” pungkasnya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top