Peneliti AS Prediksi, Physical Distancing Bisa Sampai 2022

Pelanggan duduk berjarak saat menunggu makanan pesanannya di sebuah restoran cepat saji di Surabaya, Jawa Timur, Senin (6/4/3/2020). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

JAKARTA – Gabungan peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health memprediksi, kebijakan physical distancing (jaga jarak fisik) mesti diperpanjang hingga 2022. Sebab sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien Covid-19.

“Kebijakan jaga jarak kemungkinan perlu dilakukan hingga tahun 2022, kecuali sudah ada pengobatan dan vaksin yang tersedia untuk mengobati pasien Covid-19,” kata salah satu peneliti Marc Lipsitch kepada jurnalis CNN.

Selain itu, studi juga menunjukkan pandemi virus Korona SARS-Cov-2 berpotensi akan terus muncul meskipun kebijakan lockdown telah dicabut. “Pengawasan harus lebih ketat karena virus ini dapat muncul kembali dan menyebar hingga 2024,” tegas Lipsitich.

Oleh karena itu para peneliti berpendapat bahwa tes Covid-19 perlu ditingkatkan secara masif di suatu negara untuk menentukan ambang batas kebijakan physical distancing. Namun jika obat dan vaksin telah tersedia, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk melonggarkan durasi lockdown.

Para peneliti saat ini tengah mengkaji lebih jauh seberapa kebal mantan pasien positif Covid-19 pada virus yang sama, sebab dikhawatirkan orang itu bakal kembali terjangkit.

Berdasarkan jurnal yang ditulis peneliti berjudul, “Projecting The Transmission Dynamics of SARS-CoV-2 Through The Postpandemic Period”, kemungkinan kekebalan imun mantan penderita Covid-19 hanya dapat bertahan selama satu tahun tetapi ini mesti diidentifikasi lebih lanjut.

Tim peneliti Harvard kembali menegaskan virus corona baru tidak berhenti pada gelombang awal saja, berkaca pada kasus wabah SARS yang terjadi tahun 2002-2003 seperti dilansir Science Alert.

Di China terdapat penemuan 89 kasus baru virus Korona saat negara ini sedang berupaya mencegah gelombang kedua pandemi. Komisi Kesehatan Nasional di China melaporkan hampir semua kasus baru itu merupakan kasus impor, yakni penularan virus dari warga yang baru datang dari luar negeri.

Data jumlah kasus infeksi virus Korona di seluruh dunia hingga 15 April telah mencapai 1.997.620 orang. Korban meninggal akibat Covid-19 sebanyak 126.596 jiwa dan 478.425 pasien dinyatakan sembuh.

Amerika Serikat menjadi negara dengan kasus dan kematian terbanyak yaitu 26.047 orang. Sedangkan pasien positif sebanyak 613.886 orang dan 38.820 telah dinyatakan sembuh.

Korea Selatan merupakan negara yang paling terdampak virus corona di Asia. Negara ini memiliki 10.564 kasus positif, 222 orang meninggal, dan 7.534 orang sembuh.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top