Hadapi UN, Siswa Harus Menghindari Rasa Khawatir

Yunita Sari, Psikolog Kota Bandung

BANDUNG – Kekhawatiran menjadi salah satu hal yang tak terelakkan ketika seseorang akan menghadapi ujin. Tak terkecuali para siswa yang juga akan menghadapi Ujian Nasional (UN) dalam waktu dekat ini.

Menurut Psikolog Kota Bandung Yunita Sari, terdapat dua faktor yang mempengaruhi siswa yang merasakan kekhawatiran berlebih. Pertama kata dia, faktor di dalam diri sendiri dan yang kedua faktor di luar diri atau eksternal. Faktor dalam diri (personality), seperti motivasi, harapan, ambisius, atau perfeksionis. Adapun faktor eksternal meliputi orang tua, guru di sekolah, sosial media, pemberitaan di media dan lingkungan pertemanan.

Lihat Juga:  Genangan Bandung Selatan Cepat Surut

Yunita mengatakan, terdapat beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa kekhawatiran siswa saat akan menghadapi UN. Guru dan orang tua harus bisa bekerjasama dalam membangun kepercayaan satu sama lain untuk mendukung siswa.

“Program apa yang ada di sekolah itu nanti dijelaskan kepada orang tua. Misalnya, Ibu hari ini akan mulai diadakan pemantapan di sekolah. Hal tersebut disampaikan kepada orang tua, sehingga orang tua dapat mengatur jadwal belajar siswa, jadi anak tidak diforsir. Itu juga menjadi salah satu  cara untuk menghindari stress yang terjadi pada anak,” ujar Yunita, kepada Jabar Ekspres, Senin (9/3).

Lihat Juga:  NasDem Panaskan Mesin Partai Jelang Pilkada Serentak

Wanita yang saat ini sedang menempuh studi Doktoral di Universitas Gajah Mada (UGM) ini juga memaparkan aspek spiritual menjadi salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran. Salah satunya dengan sering memanjatkan doa.

“Doa itu kan merilis kekhawatiran kan, kalau kita kan biasanya istigosah. Itu kan menurunkan tension atau tekanan. Misalnya orang tua, setiap shalat mendoakan anaknya. Itu kan perasaan anaknya jadi beda. Nah itu dari sisi spiritualnya,” paparnya.

Keadaan jasmani siswa juga mempengaruhi tingkat stress. Anak bisa melakukan olahraga ringan seperti renang ataupun basket. Seseorang yang memiliki intensitas olahraga yang cukup sering, tingkat stressnya bisa lebih berkurang. Yunita mengatakan anak juga bisa diberikan reward sebagai bentuk motivasi.

”Orang tua bisa memberikan hadiah kepada anak untuk memotivasi. Misalnya, Try Out (TO) sekarang bisa segini, kira-kira kamu maunya apa? Tapi yang ibu sama bapak bisa beli. Nah itu sebagai bentuk support saja,” pungkasnya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top