Lahan Kritis Penyebab Bencana!

KBU KRITIS: Sebuah bangunan berdiri kokoh diantara pepohonan di Kawasan Bandung Utara (KBU), Kota Bandung, Minggu (12/4). KBU merupakan daerah resapan air yang kondisinya mulai memprihatinkan karena banyaknya bangunan yang berdiri di kawasan tersebut.

BANDUNG – Kawasa Bandung Utara (KBU) sejauh ini banyak mengalami alih fungsi lahan. Sebab, pembangunan perumahan di wilayah itu sudah tidak terkendali. Bahkan, diduga banyak yang tidak mengantongi izin.

Selain itu, dibeberapa titik diwilayah itu, kondisi lahan sudah sangat kritis. Terlebih masyarakat setempat banyak yang memanfaatkan menjadi lahan pertanian. Padahal, seharusnya KBU adalah daerah resapan air.

Melihat kondisi ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) akan terus berupaya mengatasi permasalahan  itu, Terutama. lahan kritis yang ada di Kawasan Bandung Utara (KBU).

Menanggapi hali tersebut Gubernur Jabar Ridwan Kamil berjanji akan membahas upaya pemulihan KBU bersama dinas dan pemda terkait, salah satunya membentuk Badan Otoritas Cekungan Bandung.

“Kami menyusun Badan Otoritas Cekungan Bandung, sekarang sedang dibentuk. Di situlah nanti pengaturan KBU punya tim yang tegas,” ucap Ridwan Kamil saat ditemui di Gedung Ste belum lama ini.

Selain itu,  untuk pemulihan pihaknya juga akan melibatkan Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum karena KBU berada di bawah ranah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Bahkan, dia mengakui untuk penegakan hukum di KBU selama ini dirasa kurang maksimal. Untuk itu,  Satgas Citarum Harum akan dilibatkan.

“KBU juga ‘kan masuk ranah anak DAS Citarum, maka nanti dalam penegakan hukum akan dilibatkan juga TNI sebagai bagian dari program Citarum Harum,” tutur Emil.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini mengatakan, Pemda Provinsi Jabar akan mencanangkan program penanaman 25 juta pohon produktif di Jabar mulai awal Januari 2020, termasuk di lahan kritis KBU.

Namun khusus untuk KBU, program akan dilakukan lebih awal yakni pada Senin 9 Desember 2019 dengan menanam sebanyak 6.000 pohon di titik-titik yang dinilai menjadi penyebab banjir bandang.

“Jadi kita sudah canangkan program 25 juta penanaman pohon di Januari 2020. Tapi mulai Senin besok (9/12) enam ribu pohon produktif akan ditanam dulu di KBU,” kata Emil.

“Senin (hari ini)  akan ditanam dulu di lahan-lahan kritis atau di area yang dulu sempat jadi terduga sumber banjir di Cicaheum,” ujarnya mengakhiri.

Sementara itu, berdasarkan data pada 2018 Sampai  jumlah total lahan kritis di Jabar seluas  Pihaknya menambahkan saat ini jumlah lahan kritis di wilayah Jabar berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencapai 911.000 hektare.  Sekitar 714.000 hektare lahan kritis di Jabar berada di luar kawasan hutan, sisanya di dalam kawasan hutan.

Sementara itu, Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan Wilayah Bandung Selatan, Pehutani Divisi Regional III Jawa Barat, Tedy Sumarto mengatakan, pada awal musim hujan kali ini, hulu Sungai Citarum akan ditanami 1,9 juta bibit pohon. Dalam waktu dekat, berbagai lokasi seperti Pangalengan, Ciparay, Ciwidey dan Banjaran juga akan dilakukan hal serupa.

Tedy menilai, memasuki musim hujan merupakan saat yang tepat untuk menanam pohon. Kalau menanam di musim kemarau, potensi matinya tinggi.

Tedy mengakui, di hulu Sungai Citarum masih terdapat lahan kritis yang hingga kini penghijauannya belum tuntas. Padahal, lahan yang pengelolaannya berada di Perhutani itu merupakan kawasan hutan lindung dengan jumlah total 43 ribu hektare. Selain rusak karena dirambah, lahan kritis inipun tercipta karena alih fungsi menjadi perkebunan.

“Sejak 2003, kita terus lakukan penghijauan kembali,” katanya.

Sebagai contoh, kata Tedy, di Situ Cisanti yang merupakan salah satu hulu Sungai Citarum, penanaman akan dilakukan di atas lahan seluas 1.850 hektare.

“Total di sana kawasan hutannya ada 6.000 hektare. Yang lainnya sudah bagus,” imbuhnya.

Jumlah ini akan lebih banyak karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun menyiapkan 5,5 juta bibit pohon untuk ditanam di persemaian permanen.

“Di Bogor 1 juta, di Pelabuhan Ratu 1 juta, di Cimanggis Depok 1 juta, Jomin Purwakarta 1 juta, Garut 1 juta, di Kadipaten ada 500 ribu,” katanya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top