Diskusi Pasca Unjuk Rasa Mahasiswa

SAMAKAN VISI: Mahasiswa berdiskusi santai mengenai unjuk rasa mahasiswa beberpa waktu lalu.

BANDUNG – Aksi unjuk rasa mahasiswa tolak RUU KHUP dan UU KPK memang tak lagi terjadi. Akan tetapi, kajian-kajian kemahasiswaan terkait hal itu terus berlanjut.

Kepala Departemen Kebijakan Publik Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Bandung Fauzan Irfan mengatakan, aksi unjuk rasa mahasiswa yang terjadi baru-baru ini dinilai tidak terorganisir sehingga mudah disusupi kelompok di luar mahasiswa.

“Maka dari itu perlu ada pengkoordiniran aksi secara terstruktur untuk menghindari‎ masuknya kelompok lain tersebut,” ujar Fauzan, yang juga pernah menjabat sebagai Koordinator BEM se-Jabar 2018 ini, dalam diskusi publik, di Kedai Kongres, Jalan Moh. Toha, Kota Bandung, Minggu (6/) malam.

Menurut Fauzan‎, mahasiswa jika ingin melakukan aksi unjuk rasa mestinya diperjelas. Di mana bordernya, siapa komandan lapangannya, tidak seperti kemarin, koordinatornya banyak, sehingga aksinya tidak terstruktur.

Kata dia, sebelum melaksanakan aksi, mahasiswa seharusnya melakukan evaluasi terlebih dahulu. Jangan sampai hanya ikut-ikutan saja dan tidak tahu apa yang menjadi tujuan dari aksi-aksi yang dilaksanakan.

“Mekanisme aksi harus jelas, target politiknya pun harus jelas juga, selain itu sebelumnya juga harus ada konsolidasi massa. Bahkan lebih penting lagi, jauh-jauh hari jika ingin menjalankan aksi, maka sosialisasi terlebih dahulu agar tujuannya tak melenceng,” sebutnya.

Ia melanjutkan, mahasiswa sebelum melakukan aksi diharapkan harus mengetahui isu yang akan jadi alasan aksi-aksinya tersebut.

“Jika hal ini dilakukan maka gerakan substansi‎ dari aksi-aksi yang dijalankan akan berlangsung konsisten,” katanya.

Diketahui, IDEA Institute menggelar diskusi dengan tema ‘Memotret Kondisi Bangsa Pasca Aksi Mahasiswa’. Acara tersebut dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari badan eksekutif dan badan legislatif, selain itu dihadiri pula oleh wakil dari media.

‎Disinggung mengenai alasan diadakannya diskusi mahasiswa tersebut, Fauzan menjawab, diskusi ini adalah sebagai ajang konsolidasi di antara mahasiswa. Terutama untuk menyamakan visi dan misi untuk memperkuat bab narasi argumen.

“Aksi kemarin itu awalnya baik, partisipasi politiknya jelas, hanya saja saat banyak terjadi anarkisme itulah yang jadi persoalan,” katanya.

Fauzan juga menyatakan bila terjadi aksi lagi, jangan sampai mahasiswa merusak fasilitas publik yang ada.‎ “Jangan sampai ikut terprovokasi penumpang gelap tadi, ini akan membuat buruk citra mahasiswa di publik,” katanya.

Di lain hal, Fauzan pun sangat mengapresiasi pers pada aksi-aksi yang lalu. Menurutnya pers tidak bisa dipisahkan dari reformasi yang ada, apalagi pers kini termasuk salah satu pilar demokrasi.

“Tanpa pers pesan yang ingin tersampaikan pasti menjadi hambar,” ujarnya.

Selain itu kata dia, kolaborasi mahasiswa dengan pers pun harus tetap terjaga. Selama ini menurut Fauzan pers selalu dilibatkan dalam aksi-aksi yang ada.

Di tempat yang sama, wartawan senior Kota Bandung, Adi Raksanegara mengatakan, diskusi-diskusi publik ringan pasca aksi mahasiswa, memberikan penegasan pasca aksi mahasiswa ini bisa diapresiasi oleh publik.

“Aksi yang kemarin banyak ke arah anarkis, atau ditunggangi penumpang gelap. Padahal mahasiswa tidak seperti itu, publik menyangka yang negatif di sinilah peran pers untuk memberitakannya.

Di sisi lain mahasiswa ini jika turun ke jalan, tujuannya harus jelas yaitu menyambung lidah yang tertindas,”‎ katanya.

Maka dari itu, Adi‎ meminta kepada para jurnalis di lapangan untuk selalu menjaga keselamatan.

“Selalu pasang ID card saat meliput aksi, atau jika bisa menggunakan rompi pers agar keselamatan terjamin,” pintanya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top