Uu ke Rumah Prabowo Ada Apa?

BANDUNG – Belum lama ini Wakil Gubernur Jawa Barat dikabarkan mendatangi kediaman rumah Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto. Hal ini terungkap berdasarkan pernyataan Politikus Partai Gerindra Jawa Barat Daddy Rohanady dalam rilisnya.

Menurutnya, kedatangan Uu Ruzhanul Ulum bersama Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suharso Monoarpa didampingi dengan Ketua DPW Jabar Ade Yasin sekaligus sebagai Bupati Bogor.

Akan tetapi pertemuan itu menimbulkan spekulasi dari berbagai pihak. Sebab, sesuai kapasitasnya Ade Yasin meerupakan Bupati Bogor. Sedangkan Iwan Setiawan wakilnya merupakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerinda Kabupaten Bogor.

’’Jadi dalam konteks kedatangan Ade Yasin ke rumah Prabowo relatif lebih mudah dipahami. Demikian pula kehadiran Ketua Umum PPP Suharso Monoarpa. Ia jelas mengantar Ade Yasin,’’kata dia.

Akan tetapi, kapasitas Uu Ruzhanul Ulum yang turut serta dalam rombongan banyak yang beranggapan bahwa pertemuan tersebut merupakan “balik kanan”. Artinya, ketika menjadi pasangan calon kepala daerah Jabar, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum berada di kubu berbeda dengan Gerindra.

Sehingga, rumor tak sedap muncul dari berbagai kalangan bahwa Uu merasa tak diberdayakan secara proporsional oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

’’Benarkah ia merasa benar-benar hanya menjadi ban serep? Kalau ya, ini pasti mermbuat seorang Uu yang mantan Bupati Tasikmalaya itu tidak nyaman,’’kata dia.

Kemungkinan itu cukup beralasan. Sebab, sebagai mantan orang nomor satu yang biasa memainkan segala peran di daerahnya, bisa jadi kini ia merasa kurang optimal mengaktualisasikan konsep pembangunannya. Maka, jalan yang ditempuhnya adalah merapat ke Gerindra yang menjadi pemenang dalam pileg tingkat provinsi di Jawa Barat.

Daddy menambahkan, dengan 25 kursi yang dimiliki parta Gerindra menjadi kekuatan politik yang tak bisa disepelekan. Terlebih jika PKS ikut bergabung berkoalisi di DPRD Jabar berarti sudah 46 kursi DPRD dikuasai.

’’Jadi jika PPP bergabung, jumlahnya menjadi 48. Artinya, hanya butuh 13 suara lagi seandainya pengambilan keputusan di DPRD sampai ditentukan melalui voting,’’kata Daddy.

Padahal, koalisi yang terbangun pada saat pilgub, Gerindra dan PKS bergabung dengan PAN. Jadi, koalisi ini sudah menganyongi 55 suara dari total 120. Hanya butuh tambahan 6 kursi saja.

Di sisi lain, andai ditinggalkan PPP, Ridwan Kamil hanya tinggal diusung PKB, Nasdem, dan Perindo yang totalnya 17 suara saja. Hal ini karena tak satu kursi pun diraih Hanura di DPRD Provinsi Jabar.

Andai saja PDI Perjuangan apalagi jika ditambah dengan Golkar bergabung, maka suara mayoritas berada di kubu yang tidak mendukung Ridwan Kamil.

“Saya kira, PPP dan Uu sadar betul akan hal itu. Maka, diputuskanlah PPP merapat ke Gerindra akan tetapi kami masih menunggu arahan DPP,” pungkas Daddy yang mantan Wakil Ketua Komisi IV itu. (yan)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top