Siapkan 880 Petugas, Periksa Hewan Kurban

BANDUNG – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat (Jabar) menyiapkan 880 orang petugas guna melakukan pemeriksaan hewan kurban pada Idul Adha 2019 ini. Menurut Kepala DKPP Jabar Koesmayadie Tatang Padmadinata, petugas dikerahkan untuk memastikan agar pelaksanaan kurban di Jabar dapat berjalan optimal.

Menurut Tatang, pihaknya telah jauh-jauh hari mempersiapkan pelaksanaan kurban di Jabar. Termasuk mengkaji potensi hewan lokal dan nasional hingga mempersiapkan tim pemeriksaan.

“Untuk Idul Adha tahun 2019 ini kita menyiapkan 880 orang petugas pemeriksa,” ujar Koesmayadie, kepada wartawan, Ahad (28/7).

Koedmayadie mengatakan, ada tiga daerah sebagai penghasil hewan kurban di Jabar, yaitu untuk di wilayah Barat terdapat di Gunung Sidur Kabupaten Bogor, wilayah Timur dari Kota Banjar dan Losari Cirebon. Sedangkan pasokan sapi terbanyak yaitu dari wilayah timur, baik itu sapi lokal maupun silangan melalui Inseminasi Buatan (IB) dengan sapi jenis simental, bramana maupun limosin.

“Kita siapkan petugas, sarana dan sebagainya untuk filter pertama pengawasan penyakit hewan,” katanya.

Hasil evaluasi Idul Adha 2018 lalu, kata Keosmayadie, hewan kurban yang terpapar penyakit di Jabar tak lebih dari lima persen dari keseluruhan. Baik itu yang terpapar cacing hati pada sapi dan orf pada kambing dan domba. Pihaknya juga, melakukan pemeriksaan pada bobot dan umur hewan kurban tersebut.

Tahun lalu, kata dia, pihaknya melakukan pemerikansaan pada 83 ribu ekor sapi dan yang dipotong mencapai 70 ribu ekor. “Kalau kerbau 589 sedikit. Nah domba 137 ribu (ekor) itu yang dipotong. Kambing 34 ribu (ekor). Yang paling banyak itu di kabupaten Bandung,” katanya.

Sementara untuk daerah endemik, kata dia, seperti Bogor, Subang dan Depok pihaknya rutin memberikan vaksin untuk mengantisipasi penyakit antraks pada hewan. Khusus sejumlah daerah tersebut pihaknya memang memberikan perhatian yang sangat serius.

“Jangan sampai muncul antraks dan jadi heboh. Kalau hanya parasit kan relatif tidak bahaya, masih dapat dimakan hanya tinggal dibuang saja hati yang ada cacingnya itu,” katanya.

Koesmayadi mengatakan, pihaknya juga akan siaga memantau hewan kurban yang berasal dari luar Jabar. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, pihaknya khawatir hewan yang terpapar penyakit di Jabar justru datang dari provinsi lain.

Oleh karena itu, kata dia, ia akan melibatkan petugas sebanyak 15 sampai 20 orang yang akan ditempatkan di setiap check point yang berada di perbatasan dengan luar provinsi. Kendati demikian, Koesmayadie mengaku melihat ancaman besar mengingat perlintasan hewan kurban dari luar provinsi itu tidak melintasi lokasi check point.

Misalnya, kata dia, di daerah Cirebon, hewan kurban yang datang ke Jabar rata-rata melewati tol sedangkan lokasi check point berada di luar tol. “Bukan saya anti jalan tol ya. Ini saya berkali- kali sampaikan ke pusat agar check poin itu di jalan tol. Pusat itu harus bisa, agar jalan tol diperbatasan provinsi harus ada check point,” katanya. (bbs/yan).

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top