Bahar Diancam Pasal Berlapis

MENDAPAT KAWALAN: Pimpinan Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin Habib Bahar bin Smith mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian ketika ingin mengikuti sidang di pengadilan negeri Bandung untuk mengikuti sidang perdana pada kasus dugaan penganiyaan terhadap dua orang anak.

BANDUNG – Sidang perdana kasus penganiayaan anak dibawah umur yang dilakukan Bahar Bin Smith atau yang dikenal dengan Habib Bahar berlangsung aman dan lancar.

Bahar Bin Smith masuk ke ruangan sidang mengenakan pakaian khas serba putih termasuk pecinya dengan didampingi oleh para pengacara dan puluhan pendukungnya baik diruangan sidang maupun yang berada di gedung Pengadilan Negeri Bandung.

Dalam persidangan pimpinan Pondok Pesantren Ponpes Tajul Alawiyyin Bogor ini mendengarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan pasal berlapis dan acaman 9 tahun penjara.

Dengan keterangan bahwa Bahar telah melakukan tindakan kekerasan dengan penganiayaan terhadap dua anak remaja di Bogor.

Dia memaparkan awal mula kejadian, Bahar bersama-sama dengan Agil Yahya alias Habib Agil dan M Abdul Basith Iskandar (dakwaan terpisah), Habib Husein, Wiro, Ginda Tato dan Keling (belum ter­tangkap) pada Sabtu tanggal 1 Desember 2018 sekitar pukul 11.00 WIB, di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di Kampung Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bo­gor, melakukan penganiaya­an terhadap korban CAJ (18) dan MHU (17).

’’Penganiayaan dilakukan karena korban dianggap menipu dan mengaku sebagai Habib Bahar dan mengi­si acara di Bali,’’kata dia dalam pembacaan dakwaannya di pengadilan negeri Bandung Kamis. (28/2).

Sebelumnya, Bahar mendengar ada seseorang yang nengaku-ngaku sebagai dirinya. Kemudian, terdakwa memerintahkan anak buahnya untuk mencari korban dan membawanya ke Ponpes Ta­jul Alawiyyin.

’’Di sana, Agil Yahya sempat merekam video sambil mengatakan, Ini nih yang ngaku-ngaku jadi Habib Bahar di Bali dan mau diinvestigasi,”kata Bambang.

Kemudian, korban CAJ yang pertama diinterogasi oleh terdakwa, namun CAJ melimpahkan kesalahan kepada korban MHU. (yul/yan)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top