Ada Konspirasi Jahat di Bisnis E-Commerce

Bisnis e-commerce di Indonesia tumbuh subur. Pemerintah pun latah dengan mengenakan pajak e-commerce pada April 2019 mendatang. Protes keras soal pajak e-commerce belum surut. Namun di tengah protes tersebut pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) secara online ada sekitar 9,16 juta. Angka itu melampaui target pemerintah yang hanya 8 juta pelaku UMKM yang go digital tahun 2019.

Capaian tersebut tidak lepas hasil kerjasama dengan delapan marketplace seperti Bukalapak, Blibli, Shopee, Lazada, dan Tokopedia. Ke depan, pemerintah pun akan fokus pada pendalaman pasar.

“Target total kita sebetulnya hingga 2019 itu 8 juta UMKM. Alhamdulillah justru sekarang malah sudah melebihi jadi 9,16 juta,” kata Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kominfo, Septriana Tangkary, di Jakarta, Senin (25/2).

Selain itu, kata Septriana, pihaknya kini tidak hanya mengandalkan marketplace saja tetapi juga mendorongt UMKM khususnya yang bergerak di bidang kuliner untuk masuk aplikasi ride sharing seperti GoFood dan GrabFood.

“Yang kecil saja misal kerupuk tempe, biasanya pendapatannya Rp1 juta di Surabaya. Dulu kan orang mau jual makan susah sekarang kita masukkan ke GoFood GrabFood itu aja sudah banyak. Jadi kita dorong semuanya,” ujar Spetriana.

Sementara pengamat ekonomi, Suroto mengatakan, kontribusi e-commerce di Indonesia baru 2 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB). Ini artinya potensi untuk berkembang cukup besar.

“Tapi hati-hati karena marketplace yang ada saat ini isinya banjir barang impor. Total produk impornya mencapai 90 persen. Artinya isinya para UKM itu lebih banyak hanya berperan sebagai reseller,” ujar Suroto kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (25/2).

Alhasil, menurut Suroto Banjir impor tersebut menjadi biang masalah bagi defisit perdagangan Indonesia yang telah terpuruk sejak 30 tahun terakhir yaitu 8,57 miliar dolar AS. Terutama prduk impor dari China.

“China paham betul, mereka bukan hanya mengetahui bahwa industri primer kita lemah tapi juga sudah kuasai marketplace secara murah meriah tanpa keluarkan investasi untuk membangunnya karena cukup sediakan modal di perusahaan modal ventura seperti jaringan perusahaan modal ventura di bawah Alibaba,” tutur Suroto.

“Lalu karena Jack Ma si pemilik Alibaba itu juga penasehat Presiden (Joko Widodo), jadi cukup minta Presiden untuk mendorong kompetisi kepada anak-anak muda untuk meraih Unicorn. Ini kan konspirasi jahat,” sambung Suroto.

Prihatin, kata Suroto, pemerintah selama ini tidak pernah membangun industri primer dengan serius dan mendorong para UKM untuk masuk ke marketplace, namun transaksinya sebesar 90 persen barang impor.

“Ini semacam gerakan bunuh diri massal. Jadikan masyarakat kita hanya sebagai agen dan konsumen produk impor. padahal kita sekarang ini sudah derita double defisit, baik neraca perdagangan maupun pembayaran. Mau jadi apa masa depan bangsa ini,” pungkas Suroto. (din/fin)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top