“Jebakan Setan” Pinjaman Online Renggut Nyawa Zulfadhli

Ilustrasi, Photo : Tirto

Maraknya aplikasi Pinjaman online yang bisa dengan mudah di akses melalui handphone, kembali memakan korban. Zulfadhli adalah ayah tiga anak yang sehari-hari berprofesi sebagai supir taksi di Ibu Kota. Ia ditemukan tewas gantung diri di kamar indekos temannya, Senin (11/2). Melalui surat yang ia tinggalkan, Zulfadhli meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberantas pinjaman online yang ia sebut sebagai jebakan setan.

Surat Zulfahli, Photo : Kumparan

“Dari hasil cek TKP oleh anggota Polsek Mampang, ditemukan korban gantung diri dengan seutas tali di pintu kamar mandi indekos dan ditemukan sepucuk surat wasiat korban,” ucap Kanit Reskrim Polsek Mampang, Iptu Anton Prihartono, Senin (11/2) seperti yang disitat kumparan.

Namun, karena minimnya barang bukti dan keterangan saksi, kebenaran isi surat wasiat Zulfadhli tidak bisa dipastikan. Kanit Reskrim Polsek Mampang Prapatan Iptu Anton Prihartono menyebut penyelidikan pihaknya terbatas pada proses identifikasi penyebab kematian saja.
“Hasilnya, dipastikan bunuh diri. Tidak ada tanda-tanda kekerasan atau apa. Keluarganya juga sudah menerima ini, bahwa dia bunuh diri,” ungkap Anton, ketika ditemui di Kantor Polsek Mampang Prapatan, Selasa (12/2).

Mengenai keterlibatan korban dalam transaksi pinjaman online, seperti yang disebut dalam surat terakhir korban, Anton tidak bisa memastikan lebih jauh karena harus dibuktikan terlebih dahulu.

“Di TKP kita tidak menemukan HP korban, jadi tidak ada petunjuk apapun. Termasuk mengenai utang yang ada dalam surat itu. Hanya dia (korban) yang tahu,” ungkap Anton.

Selain tidak adanya barang bukti, soal transaksi pinjamam online yang dilakukan korban juga tidak bisa didalami lebih jauh karena tidak ada saksi. Dalam hal ini, baik keluarga maupun teman korban, tidak mengetahui perkara utang Zulfadhli.
“Keluarganya juga tidak tahu apa-apa. Yang mengontrak kamar juga sudah ditanyai kemarin, tapi dia juga tidak tahu apa apa,” terang Anton.

Menurutnya, kepolisian sudah melakukan tugasnya. “Soal surat wasiat itu benar atau jangan-jangan cuma mengada-ngada, kita tidak tahu. Kecuali kalau misalnya sebelumnya ada laporan bahwa dia ditipu atau dikejar-kejar, misalnya, ya itu baru kita bisa proses,” pungkas Anton.

Sumber : Kumparan

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top