Pengadilan Penjajah Zionis Tolak Tuntutan Ayah yang Kehilangan 3 Putri dalam Perang 2008

Izzeldin Abuelaish (63), dokter dari Jabalia di utara Jalur Gaza, kehilangan putri-putrinya: Bessan (13), Mayar (15) dan Aya (20) – serta keponakan perempuannya Noor (14), saat perang selama 22 hari yang dijuluki “Operation Cast Lead”. Foto: Twitter

LONDON, Ahad (Middle East Monitor): Pengadilan ‘Israel’ pada Senin (3/12) lalu menolak tuntutan seorang warga Palestina dari Gaza yang ketiga putrinya dibunuh oleh serdadu ‘Israel’ dalam perang tahun 2008 di Jalur Gaza, serta membantah ‘Israel’ bertanggung jawab atas kematian mereka.

Izzeldin Abuelaish, seorang dokter berusia 63 tahun dari Jabalia di utara Jalur Gaza, kehilangan tiga anak perempuan dan seorang keponakan perempuan saat perang 2008-2009 di wilayah yang terblokade itu. Kisahnya menjadi terkenal setelah ia mengetahui anak-anaknya tewas ketika sedang berbicara dengan sebuah stasiun TV. Rintihan dukanya disiarkan secara langsung di seluruh Palestina dan kemudian dibagikan ke seluruh dunia.

Akan tetapi, Pengadilan Distrik Beersheba ‘Israel’ 3 Desember lalu memutuskan ‘Israel’ tidak bertanggung jawab atas kematian keempat gadis itu, malah menyalahkan kelompok-kelompok perlawanan dan (menuding) mereka menyimpan senjata di gedung tempat keempatnya tewas. Demikian pemberitaan Times of Israel.

Dalam materi tuntutan, Abuelaish mengklaim tidak ada pertempuran di daerah itu pada saat terjadi serangan ke rumahnya. Itu berarti, tidak ada alasan militer untuk menargetkan rumahnya. Oleh karena itu, tim hukum Abuelaish mengklaim penembakan ‘Israel’ itu merupakan kejahatan perang.

Anak-anak perempuan Abuelaish – Bessan (13), Mayar (15), dan Aya (20) – serta keponakannya yang berusia 14 tahun, Noor, berada di antara 1.390 warga Palestina yang tewas oleh serdadu Zionis selama perang 22 hari yang dijuluki “Operation Cast Lead”. Organisasi HAM ‘Israel’, B’Tselem, memperkirakan lebih dari separuh korban tewas adalah warga sipil.

Dalam sebuah wawancara dengan MEMO pada 2017, Abuelaish menekankan: “Saya tidak akan pernah menerima anak-anak perempuan saya hanya sebagai angka – adalah salah menyebut mereka sebagai kerusakan agunan. Mereka adalah manusia. Mereka punya wajah. Mereka punya nama.”

Abuelaish menjelaskan, sebelum mengajukan kasus tersebut ke pengadilan, dia telah mencoba selama bertahun-tahun agar penjajah Zionis bertanggung jawab atas kematian putri-putrinya. Setelah bekerja sebagai spesialis infertilitas di rumah sakit Tel Hashomer di luar Tel Aviv, ia mencoba menggunakan koneksinya untuk mendapatkan pengakuan atas kesalahan ‘Israel’, tapi tidak berhasil. “Upaya saya tidak mendapat perhatian sehingga saya berkewajiban untuk melanjutkan ini melalui pengadilan,” tambahnya.

Keputusan pengadilan Senin lalu menjadi pukulan telak bagi harapannya menerima pengakuan atas kesalahan ‘Israel’ terhadap kematian putri-putrinya. Belum jelas apakah Abuelaish akan mengajukan banding atas keputusan pengadilan itu.

Abuelaish berniat menyumbangkan kompensasi apa pun yang diberikan oleh pengadilan ‘Israel’ ke Daughters for Life Foundation, sebuah badan amal –yang ia dirikan untuk menghormati putri-putrinya– untuk mendukung pendidikan gadis-gadis dari Timur Tengah.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top