Menciptakan Manusia Unggul Lahir Batin

HUMAS JABAR/ANDY RUSNANDY/JABAR EKSPRES PERSIAPANN LAUNCHING: Gubernur Jabar Ridwan Kamil memimpin rapat persiapan launching Jabar Masagi di Gedung Sate, Sabtu (24/11).

Jabar Masagi menjadi fokus program Gubernur Jawa Barat Ridwan kamil. Sebuah penguatan pendidikan karakter. Demi mewujudkan masyarakat Jawa Barat yang Juara Lahir Batin.

****

MASAGI adalah filosofi Sunda yang singkat-padat. Tapi memiliki makna yang mendalam. “Jelema Masagi” (Natawisastra, 1979:14, Hidayat, 2005:219). Yang artinya orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, pada dasarnya pemerintah sedang mencari definisi manusia unggul Jawa Barat. Namun, manusia unggul tersebut harus menjadi target akhir dari proses pendidikan Jawa Barat. Kenapa harus ada Jabar Masagi? Sebab pemerintah merasa penyamarataan kurikulum ini terdapat positif dan negatifnya.

Ia mengakui kurikulum pendidikan saat ini terlalu kaku. Mengakibatkan ruang-ruang berkembang dan keunikan menjadi “mati muda”. Dalam penerapannya melalui program ini, ia mengibaratkan dalam pepatah Sunda seperti batu turun keusik naek”. Artinya, pemerintah mencari letak timbangan komprominya.

“Problem, termasuk pendidikan banyak sekali. Tapi juga kita harus punya benchmarking. Yang sudah terbukti. Manusia memang mencari sesuatu yang ideal. Dan yang ada adalah kumpulan potongan dari ideal-ideal,” katanya.

Ia mencontohkan Jepang. Negara yang terkenal dengan disiplinnya tinggi. Namun kata dia, urusan bunuh diri di negara sakura tersebut tergolong tinggi. Hal ini menandakan setiap positif mengandung unsur negatif.

“Kita lihat lagi benchmarking Amerika. Segalanya ada di sana. Teknologi dan lainnya. Namun, negara adidaya itu tidak memiliki asal usul budaya. Kebiasaan orang di sana, tidak merasa bersalah jika menitipkan orang tuanya di panti jompo,” jelas dia.

Lantas apa konsep manusia unggul Jawa Barat? Dalam pandangan dia, terdapat empai nilai. Yakni religius (iman), cerdas (ilmu), berkarakter (akhlak), fisik dan mentalnya (sehat).

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini menjelaskan, secara fisik dan mental mayarakat Jawa Barat harus sehat. Tercacat, sebanyak 30 persen anak di Jawa Barat tidak bertumbuh karena gizi buruk. “Dari segi fisik harus unggul. Baradag, gagah, kuat,” kata dia.

Apakah cukup dengan gagah dan kuat saja? Kata dia, tidak. Bagaimana kalau gagah tapi bodoh. Maka, manusia unggul Jawa Barat harus dipastikan Angka Partisipasi Kasarnya (APK) harus tinggi. Nantinya, pemerintah akan mencari “detektif” anak putus sekolah. Karena banyak anak putus sekolah tidak bilang-bilang.

“Padahal pemerintah terdapat instrumen untuk membiaya mereka. Siapa tahu mereka calon gubernur jika sekolah lagi. Kecerdasan ini kan tidak hanya sekolah. Namun keilmuannya,” kata dia.

Nilai berikutnya yakni iman. Iman ini penting. Seperti tertuang dalam sila pertama dalam Pancasila, menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, nilai religius sangat penting. Dengan adanya program Jabar Masagi ini diharapkan, anak milenial semakin religius agamanya.

Yang terakhir nilai akhlak atau karakter.

“Dengan adanya program Jawa Barat ini, diharapkan, lima tahun ke depan anak di Jawa Barat, misalnya sebut saja yang muslim. Ia jago ngaji, hafidz Alquran, bisa mimpin imam, rajin salatnya. fasih Bahasa Inggris-nya, ngomongin digital mengerti, someah, ngantri, mendahulukan yang sepuh, lisannya baik, jujur, gagah sehat,” pungkasnya.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top