Politisi Muda, Regenerasi Politik

BANDUNG – Banyaknya kaum muda yang terjun ke dunia politik dinilai sebagai langkah-langkah positif bagi perpolitikan Indonesia. Keterlibatan generasi muda dalam politik dianggap sebagai proses regenerasi agar politik mampu menarik kalangan milenial dalam proses pemilihan.

Artis cantik Kirana Larasati yang mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif (Caleg) menyebut, masih banyak pemilih milenial perlu mendapat pemahaman karena keterlibatan dalam politik dinilai masih kurang. Untuk itu, dirinya memilih terjun ke kancah perpolitikan untuk menjaring pemilih pemula sadar politik.

”Karena sebenarnya tanpa campur tangan dan kepedulian kaum milenial negara ini akan dibawa oleh yang tua terus, padahal harus ada regenerasi,” kata Kirana di Bandung, kemarin.

Dikatakan dia, keputusan dirinya memiliki dunia politik juga lantaran ingin membantu membuat kebijakan yang pro terhadap generasi milenial. Menurutnya, kaum milenial adalah sekumpulan masyarakat yang selalu ingin dilihat, didengar dan dimengerti.

”Jadi, bagaimana orang yang tidak se-generasi dengan kita mengerti, maka akan sangat baik di pemerintahan harus ada juga milenial,” kata dia.

Kirana mengaku siap dan bersedia ditempatkan di mana saja jika pada akhirnya terpilih sebagai anggota legislatif. Namun, ada dua komisi yang sangat dicita-citakan dan ingin ditempati, yakni komisi I maupun komisi VIII. Menurutnya, anak-anak dan perempuan masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan.

”Saya punya cita-cita di VIII atau di I. Kalau di komisi VIII karena saya perempuan, mengerti nilai perempuan Indonesia. Semakin memiliki nilai, semakin Indonesia ini maju. Intinya lebih paham lah,” kata dia.

Disinggung mengenai kapasitas politik, Kirana menilai tidak semua politisi pasti memiliki latar belakang pendidikan politik. Menurutnya, yang harus diperkuat untuk menjadi politisi adalah kecintaan terhadap negara dan bangsanya.

Kirana menuturkan, sangat tidak adil jika masih ada pihak yang menyebut seseorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan politik tidak berkapasitas. Untuk menjadi seorang legislator, kata dia, yang dibutuhkan adalah peduli kepada masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil).

”Yang penting tidak korupsi, jujur, amanah itu harus dipegang. Sembari jalan, wawasan juga harus diisi, gak boleh cuma sekedar cover. Saya sadar diri ketika ditawari sekolah politik, maka saya ikut mengisi pengetahuan saya,” kata dia.

Pengamat Politik FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Muradi mengatakan, generasi milenial memiliki makna dan karakteristik dalam politik yang tentu menarik. Untuk itu, dirinya menyebut jika partai tidak bisa menolak karena mau tidak mau harus memiliki kader yang harus menjadi figur yang menarik simpati pemilih pemula.

Diungkapkan dua, jumlah pemilih pemula yang ada di Indonesia hampir 87 persen dari jumlah penduduk yang ada dengan rentang usia mulai 17 sampai 40 tahun. Untuk itu, Muradi menilai politisi muda menjadi bagian sangat strategis dalam membantu mendorong meningkatkan jumlah partisipasi pemilih pemula.

”Ini strategi partai untuk menarik strategi dan saya kira menjadi poin agak berbeda karena pada akhirnya adalah suatu realitas yang gak bisa ditolak karena strategi kan ada dua, yaitu figur dan perahu atau Parpol,” kata Muradi.

Sementara mengenai kapasitas, Muradi menilai bergantung terhadap dua hal, yakni background atau latar belakang maupun kemampuan Partai Politik (Parpol). Sebagai contoh, kata dia, partai seperti PDIP, Golkar dan Nasdem saat ini telah melakukan regenerasi supaya Caleg lebih enak dilihat dan tetap paham politik.

“Orang banyak melihat politisi yang mukanya serius, tampilannya tidak menarik tapi sekarang berbeda dan saya kira ini bagian dari strategi partai dan juga integrasi antara generasi yang lama ke generasi yang paling baru,” kata dia. (mg1/ign)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top