Gubernur Jabar Bidik e-Commerce Pertanian

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana mengembangkan sistem perdagangan digital. Sistem itu nantinya akan diterapkan bagi para petani di seluruh Jawa Barat.

Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dengan diterapkannya perdagangan digital dinilai akan mempermudah pemasaran produk pertanian para petani di Jawa Barat. Sistem perdagangan digital yang akan terapkan pihaknya, terhadap petani di Jawa Barat yakni berbasis daring atau online. Menurutnya, setiap petani akan melakukan perdagangan layaknya layanan e-commerce atau pasar digital.

”Nanti petani bisa jual beras online, peternak jual sapi online, petambak bisa jual ikan online, ini untuk memotong perdagangan konvesional yang membuat petani tidak sejahtera,” kata Ridwan di Bandung, kemarin (3/10).

Emil -sapaan Ridwan Kamil- menyatakan para petani selama ini sulit mencapai kesejahteraan dikarenakan masih menerapkan sistem dagang zaman dulu (Jadul). Dengan sistem tersebut, dia meyakini bisa merevolusi keuntungan bagi para petani maupun nelayan di Jawa Barat.

”Sistem perdagangannya nanti bisa saja kerja sama dengan e-commerce seperti Tokopedia dan Bukalapak, tapi jualannya produk- produk pertanian,” kata dia.

Dikatakan Emil, yang harus dipersiapkan saat ini adalah manajemen dagang para petani agar siap menerapkan sistem perdagangan digital.

Menurutnya, para petani harus diajari tata cara menge­mas sebuah produk seperti beras agar bisa dikemas men­jadi paket kiloan. ”Bukan hanya beras. Begitu pula, produk-produk pertanian lainnya,” kata dia.

Emil menyatakan, selain mengubah paradigma pema­saran produk untuk petani di Jawa Barat, pihaknya juga berencana akan mengujico­bakan beberapa inovasi dalam bidang pertanian yang dinilai mampu membantu petani menghadapi cuaca dengan kondisi ekstrem.

Dijelaskan dia, pertanian infus atau irigasi tetes dinilai akan mengatasi permasalahan pertanian yang selama ini ter­jadi di Jawa Barat. Pasalnya, Jawa Barat adalah provinsi yang kerap dilanda kekeringan dan tentunya sering menyebabkan petani mengalami gagal panen.

”Karena sebetulnya tanaman tidak butuh air sebanyak hu­jan, tidak butuh juga air se­banyak waktu kita siram, tapi tanaman butuh nutrisi dan air secukupnya,” kata dia.

Dengan sistem tersebut, Emil sangat meyakini semakin memudahkan proses penyi­raman atau pemberian nu­trisi cair secara perlahan. Terlebih sistem infus sangat menghemat tenaga karena tidak perlu terus menerus menyirama tanaman ketika musim kemarau tiba.

”Sehingga tanaman tumbuh di musim kemarau, atau di tanah kering kerontang dengan tetesan air. Sudah kita siapkan lokasinya untuk uji coba di Indramayu,” kata dia. (mg1/ign)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top