Harga Minyak Naik di Tengah Pengetatan Produksi

Foto : Tribunnews

NEW YORK – Harga minyak kembali naik pada akhir perdagangan Selasa (25/9) waktu setempat. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran pasokan global yang lebih ketat menyusul sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran. Minyak mentah Brent melonjak ke posisi tertinggi dalam empat tahun terakhir. Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mendesak OPEC untuk meningkatkan produksi minyak mentahnya. Dalam pidato di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump menegaskan kembali seruannya kepada Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memproduksi lebih banyak minyak dan menghentikan kenaikan harga.

Sebelumnya, harga minyak telah melonjak karena kekhawatiran tentang pasokan global setelah sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran berlaku 4 November. Brent mencapai 82,55 dolar AS per barel, tertinggi sejak 10 November 2014.”Sulit untuk percaya bahwa Saudi tidak akan menjawab seruan (Trump) cepat atau lambat, terutama jika harga lebih tinggi,” kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York.

Kelompok OPEC, yang mencakup Rusia, Oman dan Kazakhstan, bertemu akhir pekan lalu, untuk membahas kemungkinan peningkatan produksi minyak mentah. Akan tetapi, kelompok itu tidak terburu-buru untuk melakukannya.Mohammad Barkindo, sekretaris jenderal OPEC, mengatakan di Madrid pada Selasa (25/9) bahwa OPEC dan mitra-mitranya harus bekerja sama untuk memastikan mereka tidak jatuh dari satu krisis ke krisis lainnya.

Patokan global minyak mentah Brent untuk pengiriman November bertambah 0,67 dolar AS menjadi ditutup pada 81,87 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 0,20 dolar AS menjadi 72,28 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, mendekati tingkat tertinggi sejak pertengahan Juli. Patokan global Brent berada di jalur untuk kenaikan kuartalan kelima berturut-turut, rentang terpanjang sejak awal 2007, ketika enam kuartal berjalan menuju rekor tertinggi 147,50 dolar AS per barel.

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top