Cianjur Kembangkan Varietas Beras Hitam

KETAHANAN PANGAN: Petani di Kecamatan Campakamulya terus berupaya mengembangkan beras hitam menjadi salah satu produk unggulan daerah. Varietas lokal yang banyak ditemukan di selatan Cianjur itu, dinilai berpotensi untuk bersaing dengan jenis beras lainnya untuk menutupi kebutuhan pangan.

CIANJUR – Kabupaten Cianjur akan mengembangkan beras hitam menjadi salah satu produk unggulan daerah. Varietas lokal yang banyak ditemukan di selatan Cianjur itu, dinilai berpotensi untuk bersaing dengan jenis beras lainnya.

Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano mengatakan, skala produksi beras hitam saat ini belum banyak. Namun, pemerintah akan menyiapkan lahan untuk mendorong produksi lebih banyak.

“Kami mencadangkan lahan saat ini baru 10 hektar. Nantinya akan jadi cikal bakal dan sumber benih beras hitam,” kata Mamad, Rabu (19/9).

Menurut dia, rencana pengembangan itu didukung dengan program cetak sawah di daerah mayoritas pemasok. Salah satu cetak sawah, dilakukan di wilayah Campakamulya yang saat ini memiliki beberapa petani beras hitam.

Mamad mengungkapkan, wilayah tersebut merupakan penghasil beras hitam yang cukup dikenal. Hanya saja, sejauh ini skala produksi belum begitu banyak. “Lahan di sana juga belum banyak, paling hanya beberapa hektare. Itu juga ditanam berselang dengan beras biasa, selain itu konsumsinya juga seringkali untuk pribadi saja,” jelas dia.

Mamad menuturkan, sepanjang produk tersebut bernilai ekonomi dengan dibarengi dengan permintaan konsumen yang tinggi, beras hitam layak untuk diproduksi lebih banyak. Apalagi, nilai jual beras hitam juga tinggi sampai sekarang. Namun pengembangan itu akan dilakukan secara bertahap. “Jadi harus pelan-pelan, karena beras hitam belum begitu populer. Kasihan kalau produksi petani tersendat,” ucapnya.

Mamad menambahkan, selanjutnya dinas akan melakukan tahap pengkajian dan penelitian sebelum merealisasikan pengembangan. Harus ada penilaian kecocokan lokasi dan jenis tanah. Setelah itu, dinas akan merekomendasikan hasil kajian ke Balai Penelitian Padi untuk mendapat sertifikasi izin penyebaran benih.

“Kami targetkan bisa direalisasikan dan bisa dilakukan pertengahan 2019. Bertepatan dengan musim tanam,” kata dia.

Apabila minat tinggi, dia tidak menampik jika beras hitam nantinya akan dijadikan sebagai makanan andalan sekelas dengan beras Pandanwangi.

Sementara itu, Petani dan pedagang beras hitam Asep Muslim mengatakan, proses distribusi beras hitam diakui cukup sulit. Apalagi lokasi produksi yang berada di Desa Sukasirna Kecamatan Campakamulya berada jauh dari perkotaan. “Akhirnya memang agak susah untuk memasarkan di wilayah Cianjur. Apalagi, minat terhadap beras hitam juga belum begitu tinggi,” kata Asep.

Padahal, tidak sedikit petani di sana yang melestarikan beras hitam. Menurut Asep, meskipun kalah saing dengan beras biasa, para petani tetap ingin meneruskan pertanian beras hitam yang diperoleh secara turun temurun itu.

Akan tetapi, beberapa dari mereka mencoba untuk konsisten menanam beras hitam selama dua kali musim tanam. Supaya tidak menurunkan kualitas beras, penanaman dilakukan bergilir dengan beras biasa. “Jadi hasilnya juga tidak menentu, tapi sekali tanam bisa sampai 1 ton basah untuk yang benar-benar konsisten. Diolah bisa menjadi 60 kilogram beras kering,” ujar dia.

Asep sejauh ini hanya mengandalkan market place untuk memasarkan beras khas Campakamulya itu. Soalnya, jika menjual ke pengepul pun kurang begitu laku.

Hingga saat ini, konsumen beras hitam desa tersebut lebih banyak berasal dari Bandung, Lombok, dan beberapa kota di luar pulau Jawa. Ia konsisten menawarkan beras hitam seharga Rp 25 ribu per kilogram.

“Harapannya sih, masyarakat lokal nantinya bisa konsumsi juga. Karena beras hitam ini sebenarnya bagus untuk obat diabetes, lebih bagus dibandingkan beras merah,” ujar dia. (bay/yhi)

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top