Rupiah Melemah, Istana Minta Masyarakat Tak Khawatir

Photo : Keuangan.co

JAKARTA—Pihak Istana Kepresidenan meminta masyarakat tidak panik oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi saat ini. Sebab, gejolak rupiah saat ini tidak separah yang pernah terjadi 20 tahun lalu.

Pada perdagangan Selasa (4/9/2018), nilai tukar rupiah sudah menyentuh Rp 14.935 per dollar. Posisi ini merupakan level terendah dalam 20 tahun terakhir. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang Asia lainnya, namun hanya berkisar 0,1% sampai 0,51%. Ini artinya, nilai tukar rupiah melemah paling tajam.

Pemerintah menyadari kecenderungan pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Namun, Kantor Staf Kepresidenan (KSP) memastikan pemerintah dan bank sentral akan terus berupaya menjaga rupiah kembali stabil.

Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis KSP Denni Puspa Purbasari mengungkapkan, pelemahan rupiah saat ini berbeda dengan yang terjadi pada krisis moneter 1998 lalu.

Ini 3 alasan yang diungkapkan KSP bahwa pelemahan rupiah saat ini tak separah 20 tahun lalu.

1. Pelemahan tidak drastis

Pada 1998, nilai tukar rupiah terjun 124,39%. Volatilitas pergerakan rupiah selama krisis moneter 1997/1998 juga sangat tinggi dan bergerak dalam rentang yang lebar. Pada 1998, rupiah bergerak pada rentang Rp 5.650 – Rp 15.250 per dollar AS. Dalam satu hari, rupiah bisa menguat 20,66% atau melemah 24,11%. Nilai rupiah yang terjun bebas, diikuti dengan fluktuasi yang tinggi. Saat itu gejolak rupiah membuat hitungan bisnis kacau dan masyarakat panik.

Berbeda dengan kondisi sekarang. Sejak awal tahun ini hingga level terendahnya, rupiah hanya melemah 9,3%. Pelaku usaha seharusnya masih bisa menyerap efek dari pelemahan rupiah yang tidak drastis dengan volatilitas yang relatif tidak terlalu tinggi. Dibandingkan gejolak pada 1997/1998, pergerakan rupiah saat ini bisa dibilang relatif lambat, di kisaran Rp 13.542 – Rp 14.815 per dolar. Begitupun pergerakan harga hariannya, hanya menguat 0,98% dan melemah 0,61%.

2. Cadangan devisa jauh lebih besar

Posisi cadangan devisa saat ini masih jauh lebih besar dibandingkan saat krisis 1998. Pada 1998, cadangan devisa Indonesia hanya mencapai US$ 23,61 miliar. Sedangkan, per akhir Juli 2018, cadangan devisa sudah mencapai US$ 118,3 miliar. Itu berarti, lima kali lipat lebih besar ketimbang cadangan devisa 20 tahun silam.

Dengan cadangan devisa yang jauh lebih besar, BI memiliki lebih banyak modal untuk meredam gejolak nilai tukar.

3. Kepercayaan investor masih kuat

Minat investasi asing terhadap surat utang suatu negara merupakan salah satu indikator yang secara tidak langsung memperlihatkan baik buruk kondisi makroekonomi suatu negara. Menurut KSP, tidak ada investor yang mau menempatkan uangnya di negara yang tengah sakit. Ketika bank sentral AS mengerek suku bunga, memang terlihat investor asing menarik dananya dari pasar surat utang Indonesia. Namun, sejak awal bulan ini, asing kembali masuk ke pasar surat utang Indonesia. Bahkan, per akhir pekan lalu, asing mencatatkan beli bersih Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 6,92 triliun. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia masih kuat dan memberi harapan rupiah akan cenderung stabil atau tidak akan jatuh terlalu dalam.

Lembaga pemeringkat utang Fitch Ratings juga telah mengafirmasi peringkat BBB untuk surat utang Indonesia dengan outlook stabil. Peringkat ini menunjukkan Indonesia termasuk di dalam kategori layak investasi (investment grade).

“Pemerintah akan memastikan bahwa fiskal bukan sumber dari ketidakpasatian,” kata Denni.

Dia juga mengimbau masyarakat, termasuk pelaku pasar dan dunia usaha, agar tidak khawatir rupiah akan terpuruk. Sebab, BI akan selalu ada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Di samping itu, pemerintah turut mendukung kebijakan Bank Indonesia dalam mengawal rupiah.

“Pemerintah tidak akan mengintervensi Bank Indonesia. Pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan),” ujar Denni dalam keterangan resmi KSP, Selasa (4/9/2018). []

Share this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top