Published On: Sat, Oct 5th, 2013

‘Hati ke Hati’: Dialog Jiwa Dua Manusia

InfoAnyar.com, Jakarta – Seseorang terjebak keadaan, berhadapan dengan perempuan yang punya latar belakang nyaris tak terbayangkan. Akan tetapi, hanya perempuan itu yang dapat membantunya mengatasi situasi yang sedang ia hadapi. Lalu apakah dia akan menerima, atau justru menghakimi?

hati-ke-hatiLara (Sausan Machari) masuk ke kehidupan Kinaras (Intan Kieflie) begitu tiba-tiba, seperti jatuh dari langit. Dalam keadaan yang sedang gundah mendapati suaminya, Asmaradhana (Mike Lucock) berbohong di hadapannya, sebentuk pisau kecil disorongkan ke leher Kinaras. Ia tidak punya pilihan lain kecuali melindungi orang yang “ternyata” dicintainya.

Limabelas menit pertama film ‘Hati ke Hati’ karya sutradara Reka Wijaya (serial TV ‘Bajaj Bajuri’, ‘Planet Mars’, ‘Tarzan ke Kota’, ‘Sule Detektif Tokek’) ini langsung membangun suasana menegangkan. Adegan demi adegan membawa Lara yang seorang pelacur kelas atas, dan Kinaras, seorang wanita berjilbab, dipaksa berjalan beriringan. Mereka harus bekerjasama demi menyelamatkan orang-orang yang selama ini memberi arti dalam kehidupan masing-masing.

Sejak awal, produksi Anak Negeri Film (‘7 hati, 7 Cinta, 7 Wanita’) bersama X-Code Films ini menyuguhkan adegan dan dialog tajam sarat makna. Di sebuah meja makan, Kinaras dan Asmaradhana yang setelah empat tahun menikah belum juga dikaruniai anak, berhadapan dengan Lara dan putrinya, Ambar. Lara, yang bahkan menurut suami yang juga mucikarinya tidak berbakat menjadi ibu, kini sedang mengandung anaknya yang kedua.

Namun, bagaimanapun Lara dengan segala predikat sosialnya adalah seorang Ibu. Keadaan Ambar yang tidak sempurna karena tuna wicara, tidak sedikit pun mengurangi dedikasinya sebagai seorang yang dengan penuh kasih menemani anaknya tumbuh. Percakapan tanpa suara antara Lara dan Ambar di meja makan sungguh menggambarkan keintiman mereka.

Di sisi lain ada Kinaras, seorang pengusaha butik yang bersuami arsitek sukses. Kehidupannya tampak sangat normal dan baik-baik saja. Namun, di sisi lain film yang juga diproduseri oleh Intan Kieflie ini mampu menggugat, apa sesungguhnya normal itu? Kenyataan hidup Kinaras tidak tenang. Ia dihantui segala kecemasan dan kecurigaan, dari dugaan suami yang jatuh cinta dengan kawan lamanya, hingga ketakutan tidak dicintai lagi karena belum juga dikaruniai anak.

Perjalanan semalam Lara dan Kinaras sedikit demi sedikit mengupas kemanusiaan mereka berdua. Kisah dua orang dengan latar belakang yang jauh berbeda menunjukkan betapa perbedaan bukanlah tentang perselisihan, namun tentang bagaimana saling mengisi untuk lebih dapat memahami dan mensyukuri hidup.

sumber : detikhot

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>