Published On: Fri, Aug 9th, 2013

Berwisata Sejarah di Kota Lama

InfoAnyar.com – Anda ingin belajar sejarah dan kebudayaan, cobalah datang ke kawasan Kota Lama, Semarang, Jawa Tengah. Kota Lama (dan sekitarnya) merupakan “laboratorium” sejarah lengkap yang menarik disambangi. Kawasan yang total merentang luas wilayah hingga 31 hektare ini memiliki beragam cerita menarik yang sarat dengan kisah-kisah sejarah.

Meski bukti-bukti sejarah itu sebagian sudah tak utuh lagi, beberapa petunjuk sejarah dan budaya ini masih tetap menarik untuk dikunjungi hingga kini. Kawasan Kota Lama, Semarang, atau yang sering disebut dengan Outstadt atau Little Netherland ini, secara umum memiliki karakter bangunan benua Eropa abad ke-17.

Ciri fisiknya dapat dilihat dari detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti, ukuran pintu dan jendela yang relatif lebih besar. “Hal ini menjadi daya tarik dan khazanah kekayaan sebagai laboratorium arsitek, tata bangunan, maupun penataan kota,” ujar pemerhati sejarah Semarang Jongkie Tio.

Kawasan Kota Lama yang tersentral oleh kawasan pemerintahan dan bisnis (perniagaan) juga menjadi laboratorium yang lengkap bagi eksplorasi ilmu penataan wilayah. Selain beberapa hal ini, masih banyak potensi, potensi yang dapat digali dari Kota Lama. “Kota Lama merupakan aset berharga bagi sejarah Semarang dan Indonesia,” imbuhnya.

Pegiat dan pemerhati warisan sejarah Harry Suryo mengamini. Selain kawasan Outstadt (Kota Lama), kawasan penyangganya juga menjadi laboratorium budaya yang tak kalah lengkap dan unik. Sebut saja kawasan Kauman Semarang, Kampung Melayu, serta kawasan Pecinan yang juga berkembang di sekitar lingkungan kawasan Kota Lama. “Meski mereka dibedakan lingkungannya, ternyata dalam tatanan sosial jarang terjadi gesekan-gesekan antarwarga. Tapi, tetap rukun dan senantiasa berdampingan,” tegasnya.

Tiap-tiap kampung juga memiliki keunikan dengan kekhasannya, seperti kampung Kauman yang terdiri dari berbagai kampung kecil, seperti Bangunharjo, Mustaram, serta kampung Suromenggalan. “Masing-masing kampung juga memiliki karakteristik masyarakat dan arsitektur bangunan yang khas pula,” ungkap Harry Suryo.

Yang tak kalah menarik, lanjutnya, dijauhkannya masyarakat saat itu dari berbagai gesekan horizontal menjadi warga yang tinggal di kawasan ini justru semakin memiliki ikatan kedekatan yang senasib. Hal ini direfleksikan dalam tradisi “Warak Ngendok” yang tak lain merupakan simbol akulturasi budaya masing-masing warga yang bermukim saat itu. Warak Ngendok ini merupakan representasi akulturasi antara budaya Cina (Tionghoa), Jawa, serta Arab. “Produk budaya ini justru bermula saat Semarang mengalami masa-masa paceklik,” ujarnya.

sumber : republika.co.id

About the Author

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>