Share, , Google Plus, Pinterest,

Print

Posted in:

Identifikasi Isu, Kelola Media Selama Krisis

Strategi Humas Jabar Meraih Enam Penghargaan di Ajang PRIA 2018 (Habis)

Humas Jawa Barat berhasil menarik perhatian para juri di ajang Public Relation Indonesia Awards (PRIA) 2018. Salah satunya pada keikutsertaannya di Kategori Krisis. Mereka punya trik khusus menghadapi media selama krisis atau isu berkembang.

ANDY RUSNANDY, Surabaya

DEPARTEMEN Public Relation (PR) Humas Jabar duduk di masing-masing kursinya. Mereka tampak santai. Tak ada wajah tegang sama sekali. Musik berdendang pelan dari salah satu audio komputer. Mereka bersiap diri melampirkan 9 entry karya ke panitia Public Relation Indonesia Awards 2018.

Sekitar sembilan proposal disiapkan. Salah satunya pedoman krisis dan penanganan krisis. Kategori ini memang baru dikompetisikan tahun ini. Berkaca pada pengalaman selama ini, pembuatan dokumennya tak begitu sulit. Hingga batas waktu penyerahan karya, pada 16 Februari 2018, semuanya sudah diserahkan kepada panitia.

”Kami berteman baik dengan semua awak media. Sebab, merekalah kami bisa mengerjakan dengan lancar dan bisa meraih seperti ini,” kata Kepala Bagian Publikasi Peliputan dan Dokumentasi Ade Sukalsah, Kamis (29/3) malam usai acara PRIA 2018 di Surabaya.

Kategori Krisis yang dikompetisikan memang bersinggungan dengan media dan kondisi di lapangan. Dari hubungan baik itu, Humas Jabar memiliki pengalaman dalam membuat pedoman krisis. Baik pra maupun pascakrisis. ”Komunikasi krisis nilainya 40 persen,” katanya.

Dari ulasan dokumennya, Humas Jabar memaparkan enam isu yang berpotensi meledak menjadi sebuah keadaan krisis. Keenam isu tersebut yakni keadaan kahar yang disebabkan oleh fenomena alam, antara lain gempa bumi, angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor.

Kedua, keadaan kahar yang disebabkan oleh kelalaian manusia, misal kebakaran dan kecelakaan kerja. Ketiga, kebijakan publik yang mengundang reaksi keras dari masyarakat sehingga terjadi protes masal.

Keempat, penyalahgunaan jabatan atau pelanggaran etik oknum kepemerintahan. Kelima, konflik sosial horizontal di tengah masyarakat majemuk yang terdiri atas beragam suku, agama, dan kebudayaan. Keenam, kondisi sosial mikro yang belum tertangani dan menuai keprihatinan publik di level regional maupun nasional.

”Kami memahami keadaan krisis bersifat tidak terduga dan dapat terjadi kapan saja. Sehingga perlu adanya sebuah unit komando khusus,” paparnya.

Mengantisipasi adanya krisis, Pemprov Jabar memiliki Unit Taktis Krisis dengan asas Responsif, Adaptif, dan Kohesif (RAK). Unit ini dikomandoi langsung oleh gubernur. Sedangkan kepala Biro Humas dan Prokotol sebagai juru bicara. ”Apabila perkembangan isu secara spesifik mengharuskan keahlian tertentu, maka unit ini dapat mengikutsertakan dinas terkait,” tegasnya.

Yang paling menarik para juri PRIA 2018 yaitu bagaimana Humas Jabar memetakan dalam menangani krisis. Sebab, terlepas dari berbagai antisipasi yang telah dipersiapkan, keadaan krisis dapat terjadi secara cepat dan mendadak. Terutama ketika bersinggungan dengan para jurnalis. Mereka sudah memiliki Standar Operating Procedure (SOP) untuk mengelola media selama krisis.

Dalam paparannya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali cara kerja wartawan. ”Bagaimana cara bekerja dengan reporter,” katanya. Harus mencoba untuk menjaga hubungan baik ketika bukan waktu krisis, tetapi jangan terlalu dekat.

Aksi ini juga bersiap menerima wawancara, tetapi jangan ragu untuk menolak atau mengusulkan lain waktu jika kondisinya tidak memungkinkan. ”Maksudnya tidak ada waktu, sedang tidak bekerja, dan alasan lainnya,” ujarnya.

”Aksi selanjutnya tetap fokus dan berkonsentrasi ketika sedang berbicara dengan wartawan. Karena jurnalis dapat menggunakan informasi apa pun yang diberikan,” tambahnya.

Langkah kedua dirangkum dalam pengingat. Humas Jabar mengingatkan, wartawan adalah perwakilan dari rasa ingin tahu publik yang memiliki tugas untuk menggali informasi. Mereka mencari fakta, bukan untuk iklan, karena mereka butuh ”cerita”. Jurnalis terlatih untuk bertanya: siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana.

”Mereka mencoba untuk meningkatkan polemik dengan menyatukan berbagai sudut pandang; masyarakat, juru bicara, pegawai pemerintahan, LSM, dan lainnya,” paparnya.

Paparan lainnya mengenai tips wawancara. Saat krisis berlangsung, Unit Taktis Krisis harus memahami betul cara menjawab pertanyaan wartawan. Yaitu dengan menjawab dengan singkat, benar, dan tepat, tetapi tidak tergesa-gesa.

Selalu gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. Jangan menyerang media atau wartawan. Jangan pernah gunakan kata-kata ”off-the-record”, karena tidak ada yang ”off the record” bagi wartawan. ”Coba untuk mengendalikan sesi tanya jawab. Walaupun narasumber telah menyetujui pokok pembicaraan wawancara. Serta jangan ikut serta dalam debat kontroversial,” ulasnya.

Di bagian lain, Humas Jabar juga menggunakan teknik flag untuk menyoroti kalimat-kalimat penting agar pesan benar-benar sampai. Seperti misalnya dengan jawaban ”bagian terpenting adalah…Saya pikir apa yang masyarakat ingin tahu adalah…Yang perlu diingat adalah…Saya ingin menjelaskan bahwa…Sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya ingin…”

Dan jika wartawan bersikeras dengan pertanyaan yang menjebak, gunakan teknik block and bridge untuk memfokuskan kembali pada pokok pembicaraan. Contohnya: ”Hal yang Anda katakan itu tidak salah, tetapi yang sama pentingnya adalah…Hal tersebut bukan bidang kepakaran saya, tetapi hal yang saya dapat sampaikan adalah…”.

Humas Jabar pun memiliki langkah pengelolaan isu dan krisis dalam dua belas jam pertama. Dalam lima menit info kejadian nail di media sosial. Dalam 10 menit, unit darurat memberikan respons. Dalam 15 menit, Humas Jabar diberitahu adanya krisis. Dalam 20 menit akan terjadi 8 ribu share di Twitter, 9 ribu retweet dan 10 ribu share di Instagram.

Dalam 20 menit media mengunjungi lokasi kejadian. Dalam 30 menit media meminta komentar. Dalam 35 menit berita terbit di media online dengan isu terkonfirmasi. Dalam 40 menit TV dan radio menayangkan kejadian. Dalam 45 menit para ahli diminta komentar. Dalam 50 menit hingga 55 menit, orang mulai mencari berita secara online.  ”Isu menjadi berita yang tersebar luas. Dalam 60 menit, rumor menjadi kenyataan,” pungkas Ade merinci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *